Jumat, 15 November 2019

PENCARIAN NASKAH "PARAS NABI" Monjok Pemamoran Kecamatan Selaparang Kota Mataram.


Bismillahhirohmannirohhim.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Hi semua salam hangat dari saya Moulidatul Khalifah yang ingin melanjutkan pencarian naskah-naskah kuno guna memenuhi syarat mata kuliah filologi yang diberikan dosen sastra Universitas Mataram.
Pada postingan ini  saya akan melanjutkan pencarian naskah saya yang dimana  pada postingan sebelumnya saya mencari naskah kuno di Tanak Kaken Kecamatan Sakra Lombok Timur, ingin saya kembali kesana tetapi waktu saya tidak banyak untuk menempuh jarak jauh dikarenakan sedang menjalani Program Pengalaman Lapangan (PPL), membuat laporan dan banyak kegiatan lainnya yang membuat saya tidak bisa kembali kesana dan saya beralih mencari naskah yang berada disekitar Mataram yang jarak tempuhnya tidak terlalu jauh akhirnya saya mengikuti kedua teman saya yang sebelumnya sudah mencari naskah kuno ditempat itu sebelumnya.
Pemegang naskah yang ada di daerah Monjok kota Mataram bernama Bapak Aseh. Pada hari senin, 11 November 2019 saya dan kedua teman saya merencanakan perjalanan mencari naskah kuno di daerah Monjok Pemamoran Kecamatan Selaparang Kota Mataram sebelum itu kami menghubungi Pak Aseh terlebih dahulu dan ternyata beliau belum bisa ditemui dikarekan mati lampu dan beliau bisa ditemui pada hari Kamis malam setelah sholat magrib. Akhirnya pada hari Kamis, 14 November 2019 saya pergi ke rumah Pak Aseh setelah sholat Magrib, saya pergi menggunakan sepeda motor sebelumnya kedua teman saya menghubungi saya dan mengatakan dia pergi terlebih dahulu dan menunggu di rumah Pak Aseh setelah itu saya menyusul, sedikit tersesat tapi alhamdulillah saya bisa menemukan jalannya. Sesampainya di sana saya disambut ramah oleh keluarga Pak Aseh terutama istrinya yang sedang duduk sambil membuat perapian panggangan menggunakan seng bekas tiba-tiba langsung bangun dan menyambut kita dengan ramah, menyiapkan tikar diberugak dan memanggil Pak Aseh. Kami disuruh tunggu sebentar karena Bapak lagi sholat Isya. Pada saat menunggu Pak Aseh istri Pak Aseh memberikan kami 3 cangkir teh  dan 1 cangkir kopi untuk Pak Aseh, kami merasa merepotkan istri Pak Aseh karena kami datang dengan tangan kosong. Setelah beberapa menit Pak Asih datang menghampiri dan beliau berkata bahwa tujuan kami datang untuk mencari naskah karena kedua teman saya memang sudah datang sebelumnya.
Beliau menceritakan sedikit tentang kehidupannya istilahnya basa basi karena saya belum berani membuka pembicaraan karena baru pertama kali datang kesana. Singkat cerita kami menanyakan tentang naskah yang kita cari,sebelum naskah itu di bahas beliau bercerita tentang teko tua yang dialasi nampan berisi air kembang digunakan untuk kurisan atau aqikah konon katanya teko itu tidak boleh dipegang atau dipinjam oleh orang lain kecuali keluarganya sendiri. Berikut ini gambar teko tua ;


Saya sempat bertanya tentang tradisi kurisan yang sakral menggunakan pinang, beras kuning, kapas,daun sirih, potong ayam dan sebagainya. Pembicaraan kita berlangsung lama beliau mengatakan apabila ia membawa naskah yang ditulis dengan daun lontar itu iya akan selamat. Beliau bercerita tentang perjalanannya ketika berada di Manado ada air tiga warna yang apabila orang masuk kedalam area sana iya tidak akan selamat dan tidak akan keluar dari tempat itu. Beliau pernah memasuki area itu dan semua temannya memanggil karena takut iya tak kembali, setelah iya kembali dan berada di bus ternyata ia memasuki kawasan itu tidak merasakan apapaun dan biasa saja. konon katanya ayah beliau Kiyai dan naskah itu turunan dari sunan. Singkat cerita Pak Asih Membuka naskah yang beliau pegang, sebelumnya ia membuka naskah beliau membaca doa dalam hati. Bismillahirohmannirohim. Assalamualaikum.wr.wb. (berdoa) dan beliau berkata tidak perlu terlalu sakral karena kita hanya percaya kepada Allah SWT takutnya jadi syirik.etelah membaca doa beliau langsung menceritakan isi dari naskah tersebut.
Cerita naskah yang di tulis dengan daun lontar ini adalah cerita Nabi bercukur dan di beri nama Paras Nabi atau sejarah nabi bercukur. Naskah kuno yang dipegangnya diberi nama atau judul “Paras Nabi (Nabi Bercukur)” oleh leluhurnya karena naskah ini menceritakan bagaimana sejarah Nabi Muhammad SAW yang sedang dicukur atau dikuris bahasanya. Naskah Paras Nabi ini ditulis menggunakan daun lontar dengan bahasa askara lama atau bahasa sangsekerta. Naskah Paras Nabi adalah naskah dimana pada zaman dulu malaikat jibril diutus oleh Allah SWT untuk memberitaukan Nabi Muhammad SAW. akan dicukur pada bulan Ramadan, saat malaikat mendatangi Nabi Muhammad SAW. Disitukan dikatannya ke Nabi bahwa beliau akan dicukur “silahkan apa yang diperintahkan oleh Allah dikerjakan”. Bergitulah jawab Nabi SAW. “Hari apa bulan apa saya siap dicukur? Coba tanyakan”. Malaikat Jibril diperintahkan oleh Nabi Muhammad dan dia pergi menanyakan pada Allah SWT dan beritaulah bulan apa hari apa dan tanggal berapa Nabi Muhammad akan  dicukur. “ jadi saya akan dicukur pada hari dan tanggal ini, lalu rambut saya mau diapakan dan dibawa kemana ? coba tanyakan lagi. “ ujar Nabi Muhammad. Malaikat Jibril pun menyampaikan pertanyaan Nabi Muhammad. Nanti rambut itu akan diambil oleh masing-masing bidadari yang memegangnya untuk dijadikannya sebagai ajimat yang dapat melindunginya, nanti juga para bidadari keluar dari surga akan datang pada saat Nabi Muhammad dicukur rambutnya dengan membawa daun agar rambut Nabi Muhammad SAW tidak jatuh ditanah. Setelah mengetahui hal tersebut Nabi pun mengiyakan untuk dicukur sehingga pada hari dan bulan Nabi dicukur semuanya sudah berkumpul.
Berikut ini gambar Naskah Paras Nabi ;

“Bismillahirrohmanirrohim Dini kaule hanurun, ceritene Nabi Haparas. Dini wang hangapus ringgite, cerite handike nabi, pakse langkunging sang kakot moge dohing tulak sari pinatut basa Jawi, kayat pamulane dangu, mangke kedah ngong wikan, dadi penglipuring brangti, singamaca moga doh bale hing dunia”
Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang saya menurunkan, cerita nabi bercukur. Karena aku mengganti hurufnya, cerita baginda Nabi, maksud para ahlinya, semoga dijauhkan dari bala, menggunakan bahasa jawa, pada awalnya hurufnya Arab, karena saya ingin mengetahui, menjadi pelepas lara, barang siapa yang membaca, mudah-mudahan dijauhkan dari bala bala di dunia”.


Saya sangat tertarik dengan naskah kuno karena dengan mempelajari naskah kuno kita dapat mengetahui sejarah yang ada di dunia. Sekian cerita perjalanan mencari naskah kuno dari saya, apabila ada kesalahan mohon dimaafkan dan diluruskan. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya.
  • Terimakasih.

Wassalamualaikum.Wr.Wb.

Kamis, 24 Oktober 2019

PERJALANAN MENCARI NASKAH KUNO SERAT MENAK KECAMATAN SAKRA LOMBOK TIMUR

PERJALANAN MENCARI NASKAH KUNO SERAT MENAK  JILID 3 DI DESA TANAK KAKEN, KECAMATAN SAKRA LOMBOK TIMUR



Disusun oleh:
Nama    : Moulidatul Khalifah
NIM       : E1C116044
Kelas    : VII B Sore




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2019

PERJALANAN MENCARI NASKAH KUNO SERAT MENAK  JILID 3 YANG BERADA DI DESA TANAK KAKEN, KECAMATAN SAKRA LOMBOK TIMUR

Moulidatul Khalifah
NIM E1C116044
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unram
Email: maulidatulkhalifah1@gmail.com

Abstrak

Naskah kuno yang menjadi objek penelitian kali ini adalah  naskah kuno jenis serat menak. Naskah serat menak ditulis dalam bentuk 12 bab yang dimana masing-masing bab tersebut menceritakan kisah yang berbeda-beda tetapi berkesinambungan antara bab yang satu dengan bab yang lainnya. Naskah yang akan dibahas kali ini merupakan  serat menak bab 3 yang menceritakan perjalanan Amir Hamzah ketika mempersatukan agama Islam di seluruh dunia dengan ajaran Nabi Ibrahim. Cerita yang terdapat di dalam naskah serat menak bukan cerita fiksi atau karangan, melainkan kisah nyata dari kehidupan leluhur sekitar abad ke-17.  Naskah ini ditulis oleh Raden Said alias Sunan Kalijaga yang berasal dari Jawa (Solo, Jogjakarta). Teks yang terdapat di dalam naskah serat menak ini ditulis menggunakan aksara kawi dengan bahasa sansekert kata bukan sansekerta. Sansekert merupakan campuran dari lima bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Sasak, bahasa Jawa, bahasa Bali, dan bahasa Arab. Sedangkan sansekerta merupakan bahasa yang khusus digunakan di Jogja (injil probo).
Kata kunci: Serat menak, Amir Hamzah.

PENDAHULUAN

Sebelum saya memutuskan untuk pergi ke tujuan, saya mencari informasi mengenai narasumber yang akan diwawancarai. Mamiq Jap, ialah narasumber yang saya maksud. Beliau merupakan pembayun atau pemangku adat dari desa Tanak Kaken, kec. Sakra Barat, Lotim. Beliau cukup terkenal di kalangan pemangku adat di berbagai daerah Lombok, dan Jawa. Karena beliau memiliki pengetahuan yang luas mengenai naskah kuno, banyak orang-orang dari berbagai daerah yang kini menjadi mangku berguru kepadanya. Beliau juga mengajarkan ilmunya sampai ke pulau Jawa, karena daerah yang memiliki dan melestarikan naskah-naskah kuno  ini berasal dari Jawa, Bali, dan Lombok.
Dalam perjalanan ke Lotim pada hari minggu, 20 oktober 2019, tentu saja saya tidak sendirian. Saya ditemani oleh beberapa teman saya sekalian jalan-jalan katanya.Hanya bermodalkan  google maps dan bertanya di setiap perjalanan, akhirnya kami menemukan rumah Mamiq Jap. Setibanya di sana, kami tidak bertemu dengan Mamiq Jap karena beliau sedang ada urusan lain di luar jadi kami menunggu sampai Mamiq Jap kembali. Kami tidak lupa untuk menyiapkan andang-andang yang berisi gula dan beras untuk diberikan kepada beliau. Kami membeli gula dan beras di sekitaran desa tersebut, ternyata toko beras di sana sudah tutup dan alhamdulillah ada satu toko yang memberikan beras pribadinya untuk dibeli. Ketika sedang menunggu disiapkan, mata saya tertuju pada permen kecil warna-warni yang dikemas dalam bungku berbentuk arloji khas jamana dulu. Seketika saya teringat masa kecil ketika masih sering makan jajanan yang saat ini sudah sangat langka untuk ditemukan. Saya sangat antusisas karena permen tersebut sudah tidak lagi dijual di daerah rumah saya dan saya pun membeli dua buah permen sembari flashback ke masa kecil. 
Kami menunggu kedatangan Mamiq Jap hingga selesai sholat magrib. Setibanya Mamiq Jap kembali ke rumahnya, tanpa bicara panjang lebar mengenai tujuan yang kami inginkann, beliau sudah lebih dulu mengetahui maksud dari kehadiran kami. Beliau mengeluarkan koleksi naskah yang dimilikinya. Naskah tersebut dibagi menjadi dua jenis, yakni yang satu naskah jenis serat menak yang ditulis di atas kertas kemudian disusun menjadi buku sedangkan yang satunya lagi naskah jenis lontar yang ditulis menggunakan maje di atas bambu/kayu. Kedua naskah tersebut memiliki makna yang berbeda-beda.
Singkat cerita, Kami menghabiskan waktu di rumah Mamiq Jap sampai pukul 20.00 WITA dan kami memutuskan untuk pulang. Karena sudah terlalu malam kami memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum itu kami mampir disebuah masjid untuk melaksanakan solat isya dan melanjutkan perjalanan pulang.

Metodologi 

Prosesi nyeput merupakan kegiatan memilih naskah yang akan ditembangkan dan dibacakan maknanya. Saya mendapatkan bagian jenis naskah serat menak halaman 366 dengan jenis tembang dangdang. Cerita dari naskah tersebut berisi kisah perjalanan Amir Hamzah ketika mendatangai negara Kuari.

PENUTUP
Penulisan dalam artikel ini tentunya memiliki banyak kekurangan. Untuk itu diharapkan bagi para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi hal yang bermanfaat untuk semua orang yang membaca. Terimakasih.


DAFTAR PUSTAKA
Foto naskah


Sabtu, 06 Januari 2018

SUMBER KEHIDUPAN MANUSIA

SUMBER KEHIDUPAN
“TRADISI MULUD ADAT BAYAN”
Mulud Adat Bayan merupakan suatu ritual perayaan yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan masyarakat Bayan terhadap Nabi Muhammad S.A.W, tradisi Maulid Nabi di daerah Bayan ini berjalan selama dua hari. Dalam pelaksanaannya selama dua hari yang pertama disebut “Kayu Aiq” dan yang kedua disebut “Gawe”. Para pelaksana prosesi Mulud Adat Bayan terdiri dari warga Desa Loloan, Desa Anyar,Desa Sukadana, Desa Senaru, Desa Karang Bajo dan Desa Bayan, yang semua Desa tersebut merupakan kesatuan wilayah Adat yang disebut Komunitas Masyarakat Adat Bayan.
Perhitungan berdasarkan ‘Sereat’ (Syari’at) Adat Gama di Bayan “Mulud Adat Bayan” dilaksanakan pada dua hari setelah ketepan Kalender Islam Maulid Nabi tgl 11-12 Rabi’ul Awal tepatnya dimulai pada tanggal 14-15 Rabi’ul Awal, Komunitas Masyarakat Adat Sasak Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, sejumlah masyarakat adat bersiap-siap melakukan rangkaian acara perayaan Maulid Nabi yang digelar secara adat,masyarakat adat setempat biasa menyebutnya dengan “Mulud Adat”. Sejak dari pagi hari sampai malam, masyarakat adat bayan berdatangan menuju “kampu” yaitu suatu tempat yang dituju untuk menyerahkan sebagian sumber penghasilan bumi beserta “batun dupa” (uang) dan menyatakan nazarnya kepada “inaq meniq”yaitu seorang yang menerima hasil bumi dari para warga adat yang nantinya akan diolah dan disajikan untuk dihaturkan kepada ulama sebagai bentuk rasa syukur warga atas penghasilannya, kemudian inaq meinq memberikan tanda di dahi warga adat dengan “mamaq” dari sirih sebagai ritual penandaan ( kauman) adat yang disebut “menyembeq”
Gambar diatas adalah salah satu proses adat bayan dalam melaksanakan maulid nabi yang termasuk dalam hari kedua yaitu “Gawe”. Ritual adat yang  dilaksanakan secara turun-temurun ini adalah bentuk rasa syukur manusia atas penghasilan yang berada di bumi. Sangat jelas terlihat pada gambar para wanita saling asa, asi, dan asu membantu satu sama lain dan bekerjasama dalam membersihkan beras di sungai yang dimana beras yang putih melambangkan kesucian para wanita, air sungai yang jernih melambangkan kehidupan yang bersih dan terus mengalir seperti kehidupan manusia tentunya, tanpa air semua makhluk hidup yang ada di bumi akan mati. Tanpa air manusia bisa kehausan , kekurangan zat air di badannya hingga mengakibatkan kematian. Tanpa air, hewan juga akan kehausan dan akhirnya mati. Begitu pula tanah tanpa air akan menjadi tandus dan gersang, tumbuh-tumbuhan akan layu dan kering  hingga kemudian mati. Air memberikan banyak manfaat bagi hidup kita. Dengan air kita dapat makan, minum, mencuci, mandi, membersihkan barang, bermain, dan para wanita melambangkan hidup adalah kebersamaan yang harus selalu dijaga. Jadi, sumber kehidupan disini dapat diartikan sebagai segenap sesuatu yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang atau sekelompok orang. Yang di maksud sumber kehidupan dalam adat maulid nabi di bayan ini adalah sumberdaya yang dapat diambil dan dijadikan sebagai bahan makanan, seperti : sumberdaya hayati yang berada di alam seperti air dari mata air yang langsung dapagt diminum, budidaya padi untuk makanan pokok dan sumberdaya lain yang dapat dimanfaatkan sebagai rasa syukur sebagai manusia.

Kita tersenyum bukanlah karena sedang bersandiwara.
Bukan karena senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi karena senyuman adalah suatu sikap.

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib dan kehidupan ( WS. Rendra)

Jumat, 05 Januari 2018

PIAGAM GUMI SASAK : perwujudan abadi Gumi Sasak

PIAGAM GUMI SASAK



     Gumi Sasak adalah tempat kehidupan orang-orang Sasak, di mana harapan dan tujuan hidup bergantung di sana. Serangkaian kehidupan berlangsung di tanah tersebut, dan generasi ke generasi melahirkan bagian-bagian penting yang harus diketahui oleh generasi penerusnya (muda). tanah di sana begitu subur, air terus-menerus mengalir dari Gunung Rinjani.
   Sebagian besar penduduk Gumi Sasak adalah pemeluk agama Islam, dan sisanya adalah pemeluk agama Hindu, Budha, dan sebagian kecil adalah umat Kristiani. Kehidupan antar agama di sana terjalin begitu damai, walaupun beda keyakinan, mereka tetap saling menghargai satu sama lain. Kegairahan umat Islam dalam menjalankan kehidupan agama terlihat dari antusiasnya membangun beberapa banyaknya tempat peribadatan. Sehingga hampir di setiap bagian tanah Lombok terdapat mesjid. Dari sanalah lahir julukan Lombok sebagai Pulau Seribu Mesjid.
    Agama Islam berkembang cepat di Gumi Sasak, karena menggunakan pendekatan tasawuf dalam pengajaran serta penyebarannya. Ajaran Islam tasawuf menjadi ajaran yang banyak diminati oleh penduduk Gumi Sasak. Sehingga mulai banyak yang belajar tentang ilmu tasawuf. Mengapa ilmu tasawuf banyak diminati? Karena, dalam pengajarannya ilmu tasawuf mengajarkan dimensi mendalam dalam konsep ketuhanan dan ilmu agama. Ajaran tasawuf ini pulalah kemudian menjadi acuan umum dalam membentuk sikap dan perilaku (tindakan) masyarakat Sasak.



PIAGAM GUMI SASAK
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.
   Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut :

➤Pertama:
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.

➤Kedua:
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.

➤Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.

➤Keempat:
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.

➤Kelima:
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

sumber: bapak Lalu Ari Irawan, SE., S.Pd. M.Pd. (Direktur Rowot Nusantara Lombok)

"Penandatangan dalam Piagam Gumi Sasak"
    Mataram, 14 Mulut Tahun Jenawat/1437 H 26 Desember 2015 ditandatangani bersama kami,

1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si.
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu'adz, M.A. Ph.D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin, M.Ag.
8. Dr. H. A. Muhit Ellepaki, M.Sc.
9. Dr. Lalu Abd. Khalik, M.Hum.
10. Dr. H. Sudirman, M.Pd.
11. Dr. HL. Agus Fathurrahman
12. Mundzirin, S.H.
13. Lalu Ari Irawan, SE., S.Pd. M.Pd.




                

Rabu, 27 Desember 2017

Upacara Perkawinan Sorong Serah Aji Krama



TRADISI SAKRAL MERARIQ SUKU SASAK
Pernikahan adalah suatu hal yang sangat sakral yang harus dilakukan oleh semua orang. Indonesia yang terdiri dari berbagai ragam budaya, etnis, suku, ras, bahasa maupun agama yang mempunyai tradisi/budaya yang berbeda-beda dalam berbagai rutinitas kehidupan sehari-hari terasuk dalam bidang pernikahan yang memiliki makna dan histori tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat sasak, tradisi merarik/kawin dengan cara mencuri/melarikan sang gadis dari rumahnya ke rumah keluarga calon mempelai pria adalah suatu tradisi yang sudah mengakar dan sudah menjadi kebiasaan serta tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Prosesi Merarik dengan serentetan tradisi yang mengiringinya adalah bentuk pelestarian budaya lokal yang menjadi ciri khas suku Sasak-Lombok, sekaligus sebagai penghargaan kepada calon mempelai perempuan dan keluarganya. Kekurangan dan kelebihan pasti ada dalam berbagai hal, kiranya tradisi ini dapat dipertahankan sebagai bagian dari budaya dan tradisi masyarakat Lombok, sehingga tradisi ini akan terus terwariskan kepada generasi penerus.
Suku sasak memiliki tradisi adat yang bersifat turun-temurun terutma pada adat perkawinan yang sudah tersusun dan memiliki tahapan-tahapan. Dilihat dari acara adat Sasak, prosesi perkawinan tersebut dapat dibagi menjadi tiga, yakni adat sebelum perkawinan (midang, ngujang, bejambe’ atau mereweh, dan subandar), adat dalam proses perkawinan (memulang atau melarikan, sejati atau pemberitahuan, pemuput selabar, sorong doe atau sorong serah, dan nyongkol), dan adat setelah perkawinan (bales nae).
Upacara perkawinan Sasak Lombok sering dikaitkan dengan upacara adat perkawinan sorong serah aji kerama yang merupakan salah satu tradisi yang ada sejak zaman dahulu dan telah melekat dengan kuat serta utuh didalam tatanan kehidupan masyarakat suku Sasak Lombok, bahkan beberapa kalangan masyarakat baik itu tokoh agama dan tokoh masyarakat adat itu sendiri menyatakan bahwa jika tidak melaksanakan upacara adat ini akan menjadi aib bagi keluarga dan masyarakat setempat. Sorong serah berasal dari kata sorong yang berarti mendorong dan serah yang berarti menyerahkan, jadi sorong serah merupakan suatu pernyataan persetujuan kedua belah pihak baik dari pihak perempuan maupun pihak laki-laki dalam prosesi suatu perkawinan antara terune (jejaka) dan dedare (gadis).
Upacara sorong serah ini merupakan salah satu rangkaian upacara terpenting pada prosesi perkawinan adat Sasak Lombok. Adapun prosesi perkawinan Runutan adalah sebagai berikut :

1. Mesejati
Mengandung arti bahwa dari pihak laki-laki mengutus beberapa orang tokoh masyarakat setempat atau tokoh adat untuk melaporkan kepada kepala desa atau keliang/kepala dusun untuk mempermaklumkan mengenai perkawinan tersebut tentang jati diri calon pengantin laki-laki dan selanjutnya melaporkan kepada pihak keluarga perempuan.

2. Selabar
Mengandung maksud untuk memper maklumkan kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan yang ditindaklanjuti dengan pembicaraan adat istiadatnya meliputi aji kerama yang terdiri dari nilai-nilai 33-66-100 dengan dasar penilaian uang kepeng bolong atau kepeng jamaq, bahkan kadang-kadang acara selabar ini dirangkaikan dengan permintaan wali sekaligus.

3. Mengambil Wali
Yang dimaksud dengan mengambil wali adalah mengambil wali dari pihak perempuan bisa langsung pada saat selabar atau beberapa hari setelah pelaksanaan selabar dan hal ini tergantung dari kesepakatan dua belah pihak (kapisuka)

4. Mengambil Janji
Dalam pelaksanaan mengambil janji ini adalah membicarakan seputar sorong serah dan aji kerama sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di dalam desa atau kampung asal calon mempelai perempuan.

5. Sorong Serah
Roh atau Inti dari pelaksanaan proses adat merariq ini adalah Sorong Serah Aji Krame, prosesi ini merupakan pengumuman resmi secara adat bahwa perkawinan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang disertai dengan penyerahan peralatan mempelai pihak laki-laki atau yang dikenal dengan piranti-piranti simbul adat. Sebab biasanya jika Prosesi ini tidak dilaksanakn maka kedepannya akan timbul pertanyaan sehingga timbul permasalahan baru secara intern

6. Nyongkolan
Dalam pelaksanaan nyongkolan keluarga pihak laki-laki disertai oleh kedua mempelai mengunjungi pihak keluarga perempuan yang diiringi oleh kerabat dan handai taulan dengan mempergunakan pakaian adat diiringi gamelan bahkan gendang beleq.
Adab dari Nyongkolan akan disaya tampilkan dperiode berikutnya.

7. Bales Ones Nae (Napak Tilas)
Merupakan salah satu tradisi untuk berkunjung ke rumah orang tua perempuan
secara khusus bersama kedua orang tua pihak laki-laki.

Demikian hanya ini yang dapat saya sampaikan lebih dan kurangnya mohon ditambahkan dan semoga dapat bermanfaat bagi pembacanya. Tak lupa pula saya ucapkan terimakasih kepada M. Saat selaku narasumber yang saya wawancarai untuk mengetahui apa itu upacara perkawinan suku sasak. Sekian dan terimakasih.
Assalamualaikum wr.wb

PENCARIAN NASKAH "PARAS NABI" Monjok Pemamoran Kecamatan Selaparang Kota Mataram.

Bismillahhirohmannirohhim. Assalamualaikum Wr. Wb. Hi semua salam hangat dari saya Moulidatul Khalifah yang ingin melanjutkan pencaria...