Sabtu, 06 Januari 2018

SUMBER KEHIDUPAN MANUSIA

SUMBER KEHIDUPAN
“TRADISI MULUD ADAT BAYAN”
Mulud Adat Bayan merupakan suatu ritual perayaan yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan masyarakat Bayan terhadap Nabi Muhammad S.A.W, tradisi Maulid Nabi di daerah Bayan ini berjalan selama dua hari. Dalam pelaksanaannya selama dua hari yang pertama disebut “Kayu Aiq” dan yang kedua disebut “Gawe”. Para pelaksana prosesi Mulud Adat Bayan terdiri dari warga Desa Loloan, Desa Anyar,Desa Sukadana, Desa Senaru, Desa Karang Bajo dan Desa Bayan, yang semua Desa tersebut merupakan kesatuan wilayah Adat yang disebut Komunitas Masyarakat Adat Bayan.
Perhitungan berdasarkan ‘Sereat’ (Syari’at) Adat Gama di Bayan “Mulud Adat Bayan” dilaksanakan pada dua hari setelah ketepan Kalender Islam Maulid Nabi tgl 11-12 Rabi’ul Awal tepatnya dimulai pada tanggal 14-15 Rabi’ul Awal, Komunitas Masyarakat Adat Sasak Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, sejumlah masyarakat adat bersiap-siap melakukan rangkaian acara perayaan Maulid Nabi yang digelar secara adat,masyarakat adat setempat biasa menyebutnya dengan “Mulud Adat”. Sejak dari pagi hari sampai malam, masyarakat adat bayan berdatangan menuju “kampu” yaitu suatu tempat yang dituju untuk menyerahkan sebagian sumber penghasilan bumi beserta “batun dupa” (uang) dan menyatakan nazarnya kepada “inaq meniq”yaitu seorang yang menerima hasil bumi dari para warga adat yang nantinya akan diolah dan disajikan untuk dihaturkan kepada ulama sebagai bentuk rasa syukur warga atas penghasilannya, kemudian inaq meinq memberikan tanda di dahi warga adat dengan “mamaq” dari sirih sebagai ritual penandaan ( kauman) adat yang disebut “menyembeq”
Gambar diatas adalah salah satu proses adat bayan dalam melaksanakan maulid nabi yang termasuk dalam hari kedua yaitu “Gawe”. Ritual adat yang  dilaksanakan secara turun-temurun ini adalah bentuk rasa syukur manusia atas penghasilan yang berada di bumi. Sangat jelas terlihat pada gambar para wanita saling asa, asi, dan asu membantu satu sama lain dan bekerjasama dalam membersihkan beras di sungai yang dimana beras yang putih melambangkan kesucian para wanita, air sungai yang jernih melambangkan kehidupan yang bersih dan terus mengalir seperti kehidupan manusia tentunya, tanpa air semua makhluk hidup yang ada di bumi akan mati. Tanpa air manusia bisa kehausan , kekurangan zat air di badannya hingga mengakibatkan kematian. Tanpa air, hewan juga akan kehausan dan akhirnya mati. Begitu pula tanah tanpa air akan menjadi tandus dan gersang, tumbuh-tumbuhan akan layu dan kering  hingga kemudian mati. Air memberikan banyak manfaat bagi hidup kita. Dengan air kita dapat makan, minum, mencuci, mandi, membersihkan barang, bermain, dan para wanita melambangkan hidup adalah kebersamaan yang harus selalu dijaga. Jadi, sumber kehidupan disini dapat diartikan sebagai segenap sesuatu yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang atau sekelompok orang. Yang di maksud sumber kehidupan dalam adat maulid nabi di bayan ini adalah sumberdaya yang dapat diambil dan dijadikan sebagai bahan makanan, seperti : sumberdaya hayati yang berada di alam seperti air dari mata air yang langsung dapagt diminum, budidaya padi untuk makanan pokok dan sumberdaya lain yang dapat dimanfaatkan sebagai rasa syukur sebagai manusia.

Kita tersenyum bukanlah karena sedang bersandiwara.
Bukan karena senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi karena senyuman adalah suatu sikap.

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib dan kehidupan ( WS. Rendra)

Jumat, 05 Januari 2018

PIAGAM GUMI SASAK : perwujudan abadi Gumi Sasak

PIAGAM GUMI SASAK



     Gumi Sasak adalah tempat kehidupan orang-orang Sasak, di mana harapan dan tujuan hidup bergantung di sana. Serangkaian kehidupan berlangsung di tanah tersebut, dan generasi ke generasi melahirkan bagian-bagian penting yang harus diketahui oleh generasi penerusnya (muda). tanah di sana begitu subur, air terus-menerus mengalir dari Gunung Rinjani.
   Sebagian besar penduduk Gumi Sasak adalah pemeluk agama Islam, dan sisanya adalah pemeluk agama Hindu, Budha, dan sebagian kecil adalah umat Kristiani. Kehidupan antar agama di sana terjalin begitu damai, walaupun beda keyakinan, mereka tetap saling menghargai satu sama lain. Kegairahan umat Islam dalam menjalankan kehidupan agama terlihat dari antusiasnya membangun beberapa banyaknya tempat peribadatan. Sehingga hampir di setiap bagian tanah Lombok terdapat mesjid. Dari sanalah lahir julukan Lombok sebagai Pulau Seribu Mesjid.
    Agama Islam berkembang cepat di Gumi Sasak, karena menggunakan pendekatan tasawuf dalam pengajaran serta penyebarannya. Ajaran Islam tasawuf menjadi ajaran yang banyak diminati oleh penduduk Gumi Sasak. Sehingga mulai banyak yang belajar tentang ilmu tasawuf. Mengapa ilmu tasawuf banyak diminati? Karena, dalam pengajarannya ilmu tasawuf mengajarkan dimensi mendalam dalam konsep ketuhanan dan ilmu agama. Ajaran tasawuf ini pulalah kemudian menjadi acuan umum dalam membentuk sikap dan perilaku (tindakan) masyarakat Sasak.



PIAGAM GUMI SASAK
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.
   Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut :

➤Pertama:
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.

➤Kedua:
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.

➤Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.

➤Keempat:
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.

➤Kelima:
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

sumber: bapak Lalu Ari Irawan, SE., S.Pd. M.Pd. (Direktur Rowot Nusantara Lombok)

"Penandatangan dalam Piagam Gumi Sasak"
    Mataram, 14 Mulut Tahun Jenawat/1437 H 26 Desember 2015 ditandatangani bersama kami,

1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si.
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu'adz, M.A. Ph.D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin, M.Ag.
8. Dr. H. A. Muhit Ellepaki, M.Sc.
9. Dr. Lalu Abd. Khalik, M.Hum.
10. Dr. H. Sudirman, M.Pd.
11. Dr. HL. Agus Fathurrahman
12. Mundzirin, S.H.
13. Lalu Ari Irawan, SE., S.Pd. M.Pd.




                

PENCARIAN NASKAH "PARAS NABI" Monjok Pemamoran Kecamatan Selaparang Kota Mataram.

Bismillahhirohmannirohhim. Assalamualaikum Wr. Wb. Hi semua salam hangat dari saya Moulidatul Khalifah yang ingin melanjutkan pencaria...