PERJALANAN MENCARI NASKAH KUNO SERAT MENAK JILID 3 DI DESA TANAK KAKEN, KECAMATAN SAKRA LOMBOK TIMUR
Disusun oleh:
Nama : Moulidatul Khalifah
NIM : E1C116044
Kelas : VII B Sore
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2019
PERJALANAN MENCARI NASKAH KUNO SERAT MENAK JILID 3 YANG BERADA DI DESA TANAK KAKEN, KECAMATAN SAKRA LOMBOK TIMUR
Moulidatul Khalifah
NIM E1C116044
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unram
Email: maulidatulkhalifah1@gmail.com
Abstrak
Naskah kuno yang menjadi objek penelitian kali ini adalah naskah kuno jenis serat menak. Naskah serat menak ditulis dalam bentuk 12 bab yang dimana masing-masing bab tersebut menceritakan kisah yang berbeda-beda tetapi berkesinambungan antara bab yang satu dengan bab yang lainnya. Naskah yang akan dibahas kali ini merupakan serat menak bab 3 yang menceritakan perjalanan Amir Hamzah ketika mempersatukan agama Islam di seluruh dunia dengan ajaran Nabi Ibrahim. Cerita yang terdapat di dalam naskah serat menak bukan cerita fiksi atau karangan, melainkan kisah nyata dari kehidupan leluhur sekitar abad ke-17. Naskah ini ditulis oleh Raden Said alias Sunan Kalijaga yang berasal dari Jawa (Solo, Jogjakarta). Teks yang terdapat di dalam naskah serat menak ini ditulis menggunakan aksara kawi dengan bahasa sansekert kata bukan sansekerta. Sansekert merupakan campuran dari lima bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Sasak, bahasa Jawa, bahasa Bali, dan bahasa Arab. Sedangkan sansekerta merupakan bahasa yang khusus digunakan di Jogja (injil probo).
Kata kunci: Serat menak, Amir Hamzah.
PENDAHULUAN
Sebelum saya memutuskan untuk pergi ke tujuan, saya mencari informasi mengenai narasumber yang akan diwawancarai. Mamiq Jap, ialah narasumber yang saya maksud. Beliau merupakan pembayun atau pemangku adat dari desa Tanak Kaken, kec. Sakra Barat, Lotim. Beliau cukup terkenal di kalangan pemangku adat di berbagai daerah Lombok, dan Jawa. Karena beliau memiliki pengetahuan yang luas mengenai naskah kuno, banyak orang-orang dari berbagai daerah yang kini menjadi mangku berguru kepadanya. Beliau juga mengajarkan ilmunya sampai ke pulau Jawa, karena daerah yang memiliki dan melestarikan naskah-naskah kuno ini berasal dari Jawa, Bali, dan Lombok.
Dalam perjalanan ke Lotim pada hari minggu, 20 oktober 2019, tentu saja saya tidak sendirian. Saya ditemani oleh beberapa teman saya sekalian jalan-jalan katanya.Hanya bermodalkan google maps dan bertanya di setiap perjalanan, akhirnya kami menemukan rumah Mamiq Jap. Setibanya di sana, kami tidak bertemu dengan Mamiq Jap karena beliau sedang ada urusan lain di luar jadi kami menunggu sampai Mamiq Jap kembali. Kami tidak lupa untuk menyiapkan andang-andang yang berisi gula dan beras untuk diberikan kepada beliau. Kami membeli gula dan beras di sekitaran desa tersebut, ternyata toko beras di sana sudah tutup dan alhamdulillah ada satu toko yang memberikan beras pribadinya untuk dibeli. Ketika sedang menunggu disiapkan, mata saya tertuju pada permen kecil warna-warni yang dikemas dalam bungku berbentuk arloji khas jamana dulu. Seketika saya teringat masa kecil ketika masih sering makan jajanan yang saat ini sudah sangat langka untuk ditemukan. Saya sangat antusisas karena permen tersebut sudah tidak lagi dijual di daerah rumah saya dan saya pun membeli dua buah permen sembari flashback ke masa kecil.
Kami menunggu kedatangan Mamiq Jap hingga selesai sholat magrib. Setibanya Mamiq Jap kembali ke rumahnya, tanpa bicara panjang lebar mengenai tujuan yang kami inginkann, beliau sudah lebih dulu mengetahui maksud dari kehadiran kami. Beliau mengeluarkan koleksi naskah yang dimilikinya. Naskah tersebut dibagi menjadi dua jenis, yakni yang satu naskah jenis serat menak yang ditulis di atas kertas kemudian disusun menjadi buku sedangkan yang satunya lagi naskah jenis lontar yang ditulis menggunakan maje di atas bambu/kayu. Kedua naskah tersebut memiliki makna yang berbeda-beda.
Singkat cerita, Kami menghabiskan waktu di rumah Mamiq Jap sampai pukul 20.00 WITA dan kami memutuskan untuk pulang. Karena sudah terlalu malam kami memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum itu kami mampir disebuah masjid untuk melaksanakan solat isya dan melanjutkan perjalanan pulang.
Metodologi
Prosesi nyeput merupakan kegiatan memilih naskah yang akan ditembangkan dan dibacakan maknanya. Saya mendapatkan bagian jenis naskah serat menak halaman 366 dengan jenis tembang dangdang. Cerita dari naskah tersebut berisi kisah perjalanan Amir Hamzah ketika mendatangai negara Kuari.
PENUTUP
Penulisan dalam artikel ini tentunya memiliki banyak kekurangan. Untuk itu diharapkan bagi para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi hal yang bermanfaat untuk semua orang yang membaca. Terimakasih.
PENUTUP
Penulisan dalam artikel ini tentunya memiliki banyak kekurangan. Untuk itu diharapkan bagi para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi hal yang bermanfaat untuk semua orang yang membaca. Terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Foto naskah


๐
BalasHapus๐
BalasHapus๐
BalasHapusKeren sekali
BalasHapusSangat bermanfaat untuk generasi muda
Terimakasih❤️
Hapusnganu ��
BalasHapusgimana caranya di Like ?
BalasHapus๐๐๐๐
HapusWaw keren... ini salah satu kekayaan negara kita Indonesia
BalasHapusWaw keren... ini salah satu kekayaan negara kita Indonesia
BalasHapus๐๐๐
HapusSangat bermanfaat ��terimakasih telah menjelaskan peninggalan kuno,
BalasHapusSehingga saya baru mengetahui klo di daerah sy ada peninggalan bersejarah:)
Terimakasih kembali๐
HapusNganu sek yo ...
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih๐
HapusBagus kak
BalasHapusTankyuu๐๐
Hapusbaguss
BalasHapusTankyuu๐
Hapuswaw.
BalasHapusbaru tau ini, nice post ๐
Terimakasih kakak
HapusKeren kak
BalasHapusSemangat terus untuk memuat tulisan2 yang mewariskan kekayaan budaya daerah supaya tetap terkenang dan tidak hanya ditelan zaman
BalasHapusNaskah Kuno.. hmm.. (^^♪
BalasHapus